Mira Dan Cita Citanya



Nama ku Almira, Masa kecilku sangat sederhana. Televisi berwarna, telepon genggam, dan internet adalah hal yang jarang ku temui. Hiburanku adalah halaman rumah yang luas didepan rumah, teman teman, dan alam. Setiap pagi, aku membantu ibuku memasak, aku sangat suka membantu ibu memasak. setelah itu, aku akan pergi bermain keluar rumah. Aku dan teman teman sering bermain petak umpet diantara pohon pohon mangga. Dulu waktu sd, aku pernah berfikir untuk mempunyai cita cita menjadi seorang guru. Tetapi semakin bertumbuhnya usiaku, aku mulai berpindah cita cita menjadi dokter, ya... diusia yang segitu mungkin masih pengen semua pekerjaan tanpa pikir panjang. Yang ada dipikiran hanyalah, tidur, makan, mandi, dan bermain. Masa kecilku adalah masa yang penuh kehangatan, kebersamaan, dan petualangan sederhana. Sebuah masa dimana kebahagiaan tidak diukur oleh seberapa banyak yang dimiliki, melaikan seberepa sering aku tertawa dan berapa banyak sayang yang diterima.

Sekarang aku sudah tidak bisa bermain bersama teman teman, duniaku sekarang adalah sekolah, teman teman baru, dan perasaan yang membingungkan. Aku sudah menginjak dimasa remaja, aku duduk dibangku smk yang mana aku telah bersaing dengan anak anak lain untuk masuk ke jurusan DPIB. Ini adalah jurusan penerus ayahku, ayahku arsitek, aku akan berusaha agar sepadan dengannya. Sekarang cita cita ku semakin jelas, yaitu Arsitek. Walau sebenarnya sekolah ini adalah pilihan kedua ku, Tapi itu tidak masalah, Semua sekolah sama saja, tergantung kitanya mau menaati atau tidaknya. Masa remaja adalah masa transisi. Masa dimana aku sudah mulai menemukan jati diri. Disaat yang sama, aku juga menghadapi tantangan tantangan baru, mulai dari nilai pelajaran, persahabatan, dan juga cinta cinta monyet yang memabukkan. Aku ragu ketika masuk ke jurusan ini, namun rasa ragu berubah menjadi semangat ketika guru menampilkan gambar teknik bangunan. Ada kertas gambar besar, pensil, penggaris segitiga, dan laptop dengan aplikasi desain 2D dan 3D. Inilah dunia ku yang ku harapkan. 

Aku selalu membayangkan jika aku bisa masuk UGM atau ITB. Aku membayangkan sebuah kota yang ramah lingkungan, di mana setiap bangunan tidak hanya indah tetapi juga memiliki jiwa. Aku menghabiskan waktu berjam jam di meja. Aku belajar fisika, matematika, dan gambar. Buku buku tebal kini menjadi sahabatku, sedangkan kertas sketsa dan pensil adalah alat untuk mewujudkan imajinasiku. Aku sering mendengar orang berkata "UGM itu universitas rakyat" di sisi lain, ada juga yang berkata " ITB itu pusatnya anak anak kreatif, pas banget buat jurusan arsitektur." Komentar komentar itu tidak membuatku tersinggung, justru m

enumbuhkan semangatku. Aku sering membayangkan diriku berjalan dilorong lorong tua UGM. Dikelilingi arsitektur klasik yang mempesona. Aku juga membayangkan diriku berada di hiru pikuknya ITB, bertukar ide dengan teman teman yang memiliki semangat yang sama. Aku sadar aku harus memilih, tapi ini sangatlah sulit,  UGM menawarkan suasana yang damai, sementara ITB menjanjikan inovasi dan tantangan yang tak ada habisnya.  Aku harus menghadapi ujian masuk, dan aku tau persaingan akan semakin ketat.  Akhirnya aku memiliki keinginan untuk mendaftar kedua kampus tersebut, dan jika aku dipilih, aku akan menerima berdasarkan panggilan hatiku. Dan jika aku tidak diterima, aku akan melanjutkan perjuanganku, bermodalkan sketsa, pensil, dan impian untuk menjadi arsitek.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEGATHRUST DIINDONESIA (Almira)

MEGATHRUST (tata)

MEGATHRUST (Erent)